Oleh: Hafidz Arfandi, Pegiat Ekonomi.
Pertemuan Investor AS Ray Dalio dan pengusaha besar Republik Indonesia berkaitan BPI Danantara di Istana Negara pula mungkin yang dilakukan Xi Jinping di Beijing simposium bulan lalu, memang tidak ada cara lain menghadapi reshaking world order, gegara manusia paling berkuasa di bumi, yang kebetulan juga kontroversi, Donald Trump!
Bagi Indonesia efeknya sangat parah, fiskal amburadul, pasar saham drop terus-terusan, perdagangan berpotensi melorot jauh sebagai dampak perang tarif.
Tak ada jalan lain, perlu koordinasi negara dan swasta! Bagi pandangan kritis ini kegilaan para elit, tapi secara praktis tidak mungkin negara bisa bergeliat tanpa negosiasi dengan pemilik modal besar.
Mau naikin tarif pajak kelas menengah yang menjerit, akhirnya batal. Mau tak mau, pakai monetary strategic dan mereka yang punya duit dan biasa ngatur duit harus diajak ngomong! Pemerintah sudah mengkonsolidasi Danantara, setidaknya proses negosiasi jadi satu pintu, tinggal swasta mau kemana?
Selama ini, de facto para pengusaha ini yang mengendalikan ekonomi, mau tak mau dari bangun tidur sampai tidur lagi, kita butuh mereka, suka tak suka silakan, tapi apakah bisa lepas, silakan dicoba saja, bahkan ketika hidup sederhana tetap butuh minyak goreng dan tepung, kita harus berurusan dengan produk mereka lagi.
Proses negosiasi begini berbahaya secara politik, terutama di tengah ketidakpercayaan publik, jadi untuk menjawabnya hanya satu saja pilihannya, mereka harus berhasil!
Presiden Soeharto dulu juga melakukannya sejak 1995 di Tapos, peternakan sapi miliknya, selalu mengumpulkan pengusaha dan elit teknokrasinya disana, merancang banyak hal. Tapi sayang ujungnya gagal, kelakuan anak-anaknya memperparah ketidakpercayaan publik, secara global ekonomi Asia yang hancur juga tak terbendung, belum lagi soal disiplin moneter yang payah.
Prabowo menghadapi situasi yang tak jauh beda, terutama dalam aspek fiskal dan juga kondisi keuangan BUMN yang tampak indah tapi tidak senikmat itu pada kenyataanya. Utang membesar, dan finansial engineering rawan runtuh ditengah arus capital outflow dan pengetatan pasar uang global.
Beda dengan swasta, mereka nampak surem, tapi punya banyak energi yang diendapkan! Kenapa diendapkan, jelas melindungi diri dari agresifitas pajak, caranya macam-macam mulai dari transfer pricing hingga shadow banking! Kalau pemerintah bisa dipercaya dan memberikan ruang bukan tak mungkin energi tersembunyi itu bisa dibangkitkan untuk bekerja membanjiri kembali likuiditas di ekonomi riil. Duit-duit nganggur yang diumpet-umpetin bisa masuk kembali dengan fasilitas financial dari pemerintah, jalurnya bisa lewat Danantara, nantinya Danantara ini dipakai untuk mengembangkan proyek-proyek strategis, harapannya ada nilai tambah, dan nanti banyak capital overseas yang ikutan nimbrung.
Apa kita punya peluang untuk berhasil? Sangat ada, sebut saja di Migas, kapasitas kilang kita hanya 700 ribu barel per hari, konsumsinya 1,6 juta barel per hari, jadi kita butuh 900 ribu barel per hari untuk menambah kebutuhan konsumsi, di alumunium, besi, dan seterusnya kita semua masih net importir, akibatnya industri domestik tidak kompetitif.
Tapi semuanya harus dikelola hati-hati! Jangan banyakan mark up dan manipulasi seperti yang sudah berlalu di era sebelumnya. Bisa tidak? Bisa, pertanyaanya mau apa tidak? Kita percaya Prabowo mau, dia mengupayakan segala cara yang realistis untuknya, tapi apakah dia bisa mengontrol semuanya? Belum tentu, Prabowo perlu meyakinkan kekuatan teknokrasi dan kekuatan demokratis untuk mengawalnya, seperti Lee Kuan Yeuw ketika membangun Singapura, dia tak berkompromi soal politik, tapi ia memberdayakan teknokrasi melalui meritokrasi di bisnis, serta pengawasan publik!
Orkestrasi ini yang perlu dibangun, masyarakat sipil kita sudah lama masuk eco-chamber, pokoknya negara salah! Mau belok kanan, kiri, maju, mundur atau bahkan diam selalu salah! Tapi juga tak punya alternatif, kalau pun ada unrealistik! Ya, kalau Prabowo tidak bisa berkomunikasi dengan mereka, setidaknya siapkan kaum profesional yang punya dedikasi tinggi di bisnis untuk terlibat, mereka punya kemampuan dan kapasitas untuk bekerja, dan juga memiliki achievement yang tinggi untuk melahirkan terobosan!
Banyak orang-orang berkualitas di BUMN dan Swasta yang masih berdiri di garis etika profesional! Negara bisa memberdayakannya, ketimbang semua-mua diberikan ke sistem komando militer. Banyak orang tak yakin dengan Prabowo, mungkin benar juga, tapi kita tak akan bisa keluar dari masalah tanpa negara, meski negaranya bukan negara yang apa adanya, tapi negara yang ditata ulang dari isi kepalanya, dan kita menitipkan harapan itu pada era Prabowo, karena terlalu berisiko kalau menunggu era-era berikutnya lagi, jurang sudah didepan mata!














