Pembalasan dengan Strategi Pembusukan Reputasi, Kredibilitas dan Pengubahan Persepsi pada Berbagai Institusi

Oleh: Anonim, Pegiat Sosial.

Pertarungan politik saat ini, walaupun tidak kentara di mata publik yang gemar hal-hal yang banal, namun sebenarnya pertarungan sangat bengis dan sadis. Sebenarnya, pertarungan lama antar unsur yang membentuk Indonesia sejak zaman pergerakan (nasionalisme, komunisme, islamisme dan kapitalisme), tetap berlangsung sengit, tapi mengalami modifikasi dan pencanggihan cara dan pendekatan. Salah satunya, pertarungan unsur komunis dengan non komunis. Persetan orang menyangkalnya.

Untuk memudahkan identifikasi, saat ini ada yang disebut neo komunis, yaitu komunis secara visi, tetapi pragmatis dan kapitalistik secara aksi politik. Inilah sindikat neo komunis, tanpa menampilkan diri dengan institusi partai politik.

Sindikat neo komunis merupakan wujud kontra strategi konvensional politik dalam konteks Indonesia mutakhir yang rakyatnya terlanjur fobi terhadap komunis karena kegagalannya merebut kekuasaan nasional dua kali (1948 dan 1965) dan pemberontakan yang prematur pada 1920-an.

Kontra strategi konvensional komunis dengan metode Leninisme maupun Maoisme, dibuang karena sangat mudah dikenali, dan digunakan pendekatan sindikat berdasarkan ikatan sentimen halus afiliasi dan afinitas simbolik digabungkan dengan taktik pragmatisme politik berinspirasi Tiongkok pasca Deng Xiaoping. Dipandu dan diorkestra oleh figur yang melambangkan citra kaum jelata padahal sebenarnya palsu belaka. Diorbitkan untuk mengikat dan mengkonsolidasikan orang-orang dengan angan-angan politik yang sama.

Target utama ialah bagaimana menunggangi apa dan peristiwa apapun untuk mengambil dan merebut kekuasaan nasional di Indonesia.

Langkah konsisten yang mereka lakukan ialah konsolidasi kamerad-kamerad yang disalurkan dalam pos-pos kekuasaan politik dan bisnis, guna menguatkan otot-otot kamerad-kamerad tersebut.

Kemudian, pihak-pihak yang secara historis kedudukan dan misinya bertentangan diametral dengan komunis, dibusukkan dengan beragam cara, disadari oleh mereka yang bersangkutan ataupun tidak.

Organisasi-organisasi massa keagamaan, khususnya Islam, dibusukkan reputasinya dengan memberi mereka konsesi tambang, dan dengan itu diekspos sisi kontradiksi ormas tersebut, sehingga diharapkan mengalami demoralisasi dan kehilangan kepercayaan dari pendukungnya sendiri sampai kehilangan legitimasi dan spirit asli institusi itu.

Taktik ini diterapkan juga ke institusi-institusi yang secara historis bertentangan dengan komunis. Singkatnya bagaimana caranya terjadi pembusukan dan demoralisasi yang mencoreng reputasi dan kepercayaan publik terhadap institusi tersebut, baik dengan menempatkan figur-figur yang membawa demoralisasi dan pertentangan dalam tubuh institusi yang ditargetkan.

Banjiri keadaan dengan kekacauan korupsi sampai semua orang kehilangan kepercayaan satu sama lain dan kehilangan asa untuk mendukung pemerintah. Kehilangan dukungan rakyat terhadap mereka yang berkuasa, justru hal yang menguntungkan bagi sindikat klan komunis untuk melancarkan genggaman terhadap kekuasaan negara karena hilangnya pengawasan rakyat.

Masih ingatkah Anda, dulu ketika bicara PSI, mengingatkan orang dengan pribadi-pribadi intelektual dan agung, seperti Sutan Sjahrir, Subadio Sastrosatomo, Soedjatmoko, dll. Tiba-tiba di era Jokowi, ketika menyebut PSI, justru sebaliknya muncul pribadi-pribadi level buzzers, banal, anti intelektual dan menjengkelkan. Apakah ini cara untuk mengikis ingatan kolektif tentang reputasi PSI Sutan Sjahrir, yang kebetulan bahwa PSI Sjahrir merupakan musuh besarnya komunis?

Satu lagi cara mereka yaitu menghancurkan reputasi UI dengan kasus disertasi Bahlil, dimana yang hancur bukan saja reputasi UI tapi juga HMI mengingat yang bersangkutan adalah figur HMI. Pertanyaannya, apakah ini terencana dan disengaja oleh neo komunis untuk merusak lawan-lawan lama mereka?

Angkatan Darat, apakah sudah merasa kena juga mengingat sebagai rival komunis paling legendaris?

Mereka akan terus membalas dendam dan mengubur unsur-unsur lawan politik mereka di masa lalu hingga tak berkutik atau berganti genetik yang menjelma dengan wujud baru dengan spirit baru yang tunduk pada garis mereka. Ormas-ormas keislaman yang besar, harap merenungkan diri, dengan menguatnya unsur-unsur liberal dan anti syariat di dalam unsur kepemimpinan mereka. (*)

Terkait

Jika Purbaya Direshuffle, Prabowo Sudah Tidak Berguna Lagi

Oleh: Sholihin MS, Pemerhati Sosial dan Politik. Tekanan politik kepada Prabowo untuk mereshufle Purbaya dari kekuatan hitam (Jokowi dan genk-nya) sangat kuat, terutama setelah Purbaya menolak membayar hutang Kereta Cepat…

Sebuah Kereta, Cepat Korupsinya

Oleh: Yusuf Blegur, Ketua Umum Relawan BroNies, Mantan Presidium GMNI. “Seperti pada kebanyakan proyek infrastruktur, apapun program dan pembangunan di republik ini, selalu membonceng perangai konspirasi, manipulasi dan korupsi. Ada…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Jika Purbaya Direshuffle, Prabowo Sudah Tidak Berguna Lagi

  • By eL Chan
  • November 1, 2025
  • 0
  • 303 views
Jika Purbaya Direshuffle, Prabowo Sudah Tidak Berguna Lagi

Sebuah Kereta, Cepat Korupsinya

  • By eL Chan
  • November 1, 2025
  • 0
  • 160 views
Sebuah Kereta, Cepat Korupsinya

Setahun Rezim Prabowo, Perbaikan atau Kerusakan Menahun?

  • By eL Chan
  • Oktober 24, 2025
  • 0
  • 200 views
Setahun Rezim Prabowo, Perbaikan atau Kerusakan Menahun?

Purbaya Berdaya, Menggempur Tipu Daya dan Politik Sandera

  • By eL Chan
  • Oktober 23, 2025
  • 0
  • 182 views
Purbaya Berdaya, Menggempur Tipu Daya dan Politik Sandera

Refleksi Kaum Pesantren yang Umumnya Buta Apa Itu Kapital, Bagaimana Kapital Dikumpulkan, Bagaimana Kapital Dioperasikan, dan Bagaimana Dampak Kapital dalam Mengeksploitasi Alam, Manusia dan Sejarah

Refleksi Kaum Pesantren yang Umumnya Buta Apa Itu Kapital, Bagaimana Kapital Dikumpulkan, Bagaimana Kapital Dioperasikan, dan Bagaimana Dampak Kapital dalam Mengeksploitasi Alam, Manusia dan Sejarah

Klasifikasi Kehidupan Sosial

Klasifikasi Kehidupan Sosial

Sampai Kapan Rakyat Kapok jadi Ternak Para Penguasa?

Sampai Kapan Rakyat Kapok jadi Ternak Para Penguasa?

Jokowi dan Skandal Ijazah Berjamaah

  • By eL Chan
  • Oktober 16, 2025
  • 0
  • 188 views
Jokowi dan Skandal Ijazah Berjamaah

Quo Vadis Jalur Gaza Setelah Todongan Perdamaian dari Trump untuk Hamas

Quo Vadis Jalur Gaza Setelah Todongan Perdamaian dari Trump untuk Hamas

Andaikan Aku Seorang Palestina-Jalur Gaza

Andaikan Aku Seorang Palestina-Jalur Gaza

Budaya Kita Musyawarah, Mengapa Pilpres Mesti One Man One Vote

Budaya Kita Musyawarah, Mengapa Pilpres Mesti One Man One Vote

Sistem MPR RI adalah Sistem Komunis?

Sistem MPR RI adalah Sistem Komunis?

Tidak Ada Istilah Kata Kita, Yang Ada Istilah Kami

Tidak Ada Istilah Kata Kita, Yang Ada Istilah Kami

Ganti Kapolri, Awal Reformasi Polri

  • By eL Chan
  • Oktober 9, 2025
  • 0
  • 323 views
Ganti Kapolri, Awal Reformasi Polri

Mau Kemana Reformasi Polri?

Mau Kemana Reformasi Polri?

Mayor Matnuin Hasibuan: Pendiri TKR Laut dan Pejuang Kemerdekaan di Bekasi yang Jarang Diketahui

Mayor Matnuin Hasibuan: Pendiri TKR Laut dan Pejuang Kemerdekaan di Bekasi yang Jarang Diketahui

Cara Perpikir Menkeu Baru Brilian Namun Perlu Keep Calm

Cara Perpikir Menkeu Baru Brilian Namun Perlu Keep Calm

UI, UGM, ITB: Tiga DNA Ekonomi Indonesia

UI, UGM, ITB: Tiga DNA Ekonomi Indonesia

Menakar Untung Rugi Sorbonne University Keluar dari Peringkat THE

Menakar Untung Rugi Sorbonne University Keluar dari Peringkat THE

Bahlil, Diserang Buzzer Jahat?

Bahlil, Diserang Buzzer Jahat?