Oleh: Anonim, Pegiat Sosial.
Indonesia ini negeri korup yang lengkap. Kelas bawah dan kelas atas, sama-sama korup. Bila kelas atas melakukan korupsi dengan utak-atik angka mark up, mencetak utang luar negeri dan eksport import untuk meraup komisi dan alokasi anggaran negara kepada afiliasinya, maka kelas bawah melakukan korupsi seperti berikut.
(1) Hati-hati jajanan anak SD yang bikin ketagihan. Anda mungkin jarang memperhatikan bagaimana jajanan SD yang murah meriah, tapi begitu ketagihan dibeli anak-anak kecil. Ternyata isi bumbunya mechin dengan skala berlebihan. Tujuannya supaya muncul rasa ketagihan, walaupun merusak tubuh anak-anak itu.
(2) Hati-hati mie ayam yang ramai orang ketagihan dengan ciri lemak yang tidak biasa. Diduga pasti dicampur minyak babi. Biarpun di situ ada simbol Halal. Apalagi kita tahu, apa susahnya nyetak simbol Halal.
(3) Hati-hati yang ketiga ini: gorengan tempe atau bakwan yang renyah dan krispi yang tidak seperti biasanya. Biasanya minyaknya yang sudah panas, dicelupkan dan dicampurkan dengan kantong plastik bening, wadah minyak itu.
Kenapa hal-hal semacam ini terus lestari terjadi? Karena dua hal:
(1) Dari sisi penjual, jiwa korup, kriminal dan tamak bersemayam di hati kotor mereka. Yang penting untung banyak, persetan orang banyak cekaka. Sama seperti koruptor kelas atas, jiwa dan hati mereka juga sama. Sama-sama tidak peduli celaka orang lain, yang penting dia kaya raya dengan cara apapun.
(2) Dari sisi masyarakat konsumen, yang memang hidupnya lebih banyak memburu kelezatan sesaat, tak peduli halal haram dan mudharat. Yang penting enak.
Misalnya saja, jika Anda pergi ke mal-mal yang banyak bertebaran restoran-restoran asingnya, baik dari Jepang, Korea, China, dan sebagainya, mau yang berjilbab atau jenggotan, atau pun yang berpakaian tanpa simbol Islam, dengan tanpa resah dan ragu, masuk saja ke restoran itu dan melahap makanan yang tersedia. Tak ada rasa was-was pada mereka: “Ini benar makanannya halal? Apa tidak bercampur yang tidak halal di penggorengan mereka, ya?” Tak terkata tampaknya dalam pikiran mereka seperti itu. Yang penting enak. Sikat.
Sikap hati-hati dan waspada pada yang haram atau sikap wara’ tak ada pada kamus hidup mereka. Jadi wajar, sikap permisif terhadap kebatilan dan kezaliman seperti korupsi, perzinahan yang dipertontonkan, dan kezaliman di jalanan, terjadi demikian jamak.
Saya mungkin orang yang udik dalam soal ini. Tapi karena lingkungan di Jakarta ini memang orang demikian ganas, tamak dan tanpa rasa malu terhadap hal-hal yang dilarang oleh agama, lama kelamaan kita jadi tertular juga.
Dulu zaman ada Bis Kota tahun 1990-an akhir, saya sempat bangkit dari tempat duduk dan nyaris berantam di bis itu karena tidak sudi di depan saya ada dua orang berlawan jenis saling peluk dan mesra-mesraan. Pikiran saya, ini orang sungguh tidak sopan dan bangga memamerkan setengah perzinahan. Saya tegur dengan keras, dengan mengatakan, kalau mau bermesraan, kau jangan di sini. Dia marah. Saya juga marah. Tapi para penumpang di bis itu, hanya bengong dan tidak juga membela saya.
Negeri ini tampilannya saja sebenarnya religius. Sebenarnya sangat tidak religius. Buktinya perzinahan dan perselingkuhan sudah jamak. Perempuan-perempuan perawan sebelum nikah, kita sudah ragu apakah masih signifikan jumlahnya, mengingat sejak SD saja sudah sudah pacaran. Apalagi ketika mahasiswa, sudah mengerikan, baik dengan sesama mahasiswa dan sudah jamak juga dengan dosen mereka. Orang kawin sekarang ini hanya sekedar pasrah saja, mengikuti adat. Apakah istrinya atau suaminya masih perawan ting-ting, wallahu a’alam. Apakah pasangannya tidak serong ketika berada di kantornya atau dinas ke luar kota, dia hanya pasrah saja. Tapi keraguan menghantui dirinya selamanya. Dan itu suatu kesengsaraan dan tekanan batin yang laten.
Persoalan runyam dan sistemik ini sebenarnya bila ditarik kepada aras filosofis memang berkaitan dengan filosofi hidup yang aktual dan berlaku. Filosofi bangsa ini sebenarnya yang tadinya spritualisme dan idealisme menjadi materialisme. Yang ada dan berlaku adalah sejauh mana anda punya materi. Persetan anda alim, saleh dan pintar, jika anda tidak punya materi, anda tidak bernilai di hadapan masyarakat. Akibatnya, orang memburu kehidupan materi. Orang berburu bagaimana kehidupan yang nikmat dan hedonisme. Lalu Pancasila dimana? Pancasila tidak berlaku di sini. Hanya ada dalam wacana saja.
Dengan demikian, kita sudah kehilangan kepercayaan dengan masyarakat. Jadi jangan heran, korupsi bisnis terang-terangan merebak, karena korupsi ajaran agama saja mereka lakukan. Solusinya memang lebih baik, terapkan syariat Islam supaya diri kita selamat, dan anak-anak kita selamat dari kerusakan yang ditolerir ini.














