Oleh: Pradipto Niwandhono, Dosen Universitas Airlangga.
Kalau dipikir-pikir Prabowo bukannya tidak merasa bahwa pemerintahan-nya ‘bermasalah’ di mata banyak orang, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Tapi, dia juga sadar bahwa politik dunia sedang ‘belok kanan’ menyusul pandemi dan resesi. Ibaratnya siklus seabad lalu antara tahun 1920 hingga 1940 yang didominasi fasisme dan antisemitisme, sekarang ini musimnya populisme kanan dan Islamophobia. Jika Donald Trump yang banyak dibenci di negara paling berkuasa di muka bumi saja bisa, masa saya tidak bisa, begitu mungkin dipikiran Prabowo.
Makanya, ia melakukan beberapa manuver untuk membersihkan namanya, dengan menumpang beberapa penguasa kuat Indonesia sebelumnya. Bukan saja, ia membuktikan diri telah berubah dari rival presiden sebelumnya, Joko Widodo, menjadi loyalis utamanya, namun juga melakukan tawar-menawar dengan Megawati dan Keluarga Sukarno. Proyek penulisan sejarah yang baru ini, adalah wahana penunjang dari langkah politik untuk merehabilitasi Sukarno dan Suharto sekaligus, dan tentu saja dirinya sendiri terkait kerusuhan dan penculikan menjelang runtuhnya Orde Baru pada Mei 1998. Bisa dibayangkan, bahwa meskipun banyak aktivis dan sejarawan independen menyuarakan kritikan keras, kalangan keluarga Bung Karno relatif adem ayem saja.
Ia tahu bahwa kejatuhan penguasa-penguasa kuat Indonesia seperti Sukarno dan Suharto terjadi ketika mereka berlawanan dengan kepentingan Barat, dan/atau ‘elite global’. Bung Karno jatuh seiring pembersihan komunis, keseimbangan politik yang mendukungnya kolaps dan Indonesia berada dalam krisis ekonomi parah. Sementara Suharto yang semula menjadi alat Amerika dan Barat untuk menghabisi pengaruh komunisme dan membuka Indonesia bagi modal dan hegemoni ekonomi-politik Barat berangsur tidak dibutuhkan ketika perang dingin berakhir awal 1990-an. Korupsi dan pelanggaran hak asasi mulai makin disorot publik Barat, dan Suharto sendiri jatuh akibat krisis ekonomi Asia yang konon direkayasa oleh salah satu raksasa finansial dunia yang keturunan Yahudi yakni George Soros.
Dengan begitu Prabowo menganggap aktivisme politik kritis pasca-reformasi adalah ‘alat asing’, tapi ironisnya ia sendiri malah membuktikan diri lebih pro-Barat dari para oposan itu. Jadinya seperti berebut menjadi ‘sahabat elite global’. Ini terlihat dari pujiannya terhadap pemimpin revolusi sekular Turki, Mustafa Kemal Ataturk yang merupakan salah satu tokoh paling dibenci di dunia Islam modern. Dukungannya pada ‘two-state solution’ dan peluang Indonesia mengakui Israel apabila kemerdekaan Palestina dijamin. Ini tanpa melihat kenyataan bahwa negara Zionis itu adalah sejenis negara settler-colonialist yang dijadikan proksi hegemoni Barat di kawasan Timur Tengah dengan menunggangi sentimen dan kepercayaan religius Judeo-Kristiani tertentu. Demikian pula ketika ia menyambut positif rencana Bill Gates untuk melakukan ujicoba vaksin TBC di Indonesia. Juga, beberapa kasus lainnya. Mengapa bisa begitu? Tentu saja karena Prabowo tidak mau dirinya didongkel seperti mertuanya, dimana kunci dari kekuasaan yang ingin ‘save’ adalah ‘berbaik-baiklah dengan elite global’.
Bukankah dulu ayahnya juga menempuh jalan yang 11-12 dengan apa yang ia lakukan sekarang, ketika menghadapi dirinya terancam oleh kelompok kiri. Bedanya, sekarang penguasa yang save adalah yang menjaga jarak atau mau mengontrol Islam politik. There’s nothing new under the (same) sun.














