Perbedaan Pembangunan di Daerah Sumatera Selatan, Sumatera Barat dan Sumatera Utara

Oleh: Bhre Wira, Pegiat Sosial.

Dari sepanjang jalan di sumatera selatan, kita akan melewati aneka kabupaten dan kotamadya. Tampak pembangunan fisik berkembang dari masa ke masa. Lubuk Linggau misalnya, tampak memanjang dan memadat toko-toko. Menandakan ramainya konsumsi dan produksi di daerah tersebut. Demikian juga dengan Musirawas dan seterusnya.

Namuj jika Anda melewati Solok, Bukit Tinggi, Natal, dan seterusnya menuju Mandailing Natal. Tampak jelas pembangunan lebih maju di bagian daerah Sumatera Selatan.

Ada yang menyebut di antara penyebab perbedaan kemakmuran dilihat secara sepintas berdasarkan pembangunan fisik ini, terkait dengan tidak mudahnya transaksi kepemilikan lahan dengan daerah sumatera barat. Sebab di sumatera barat, bila pemodal besar memghendaki lahan guna dikonversi menjadi pusat ekonomi, maka tidak bisa sekedar kongkolikong dengan pemerintah daerah maupun dengan pejabat BPN setempat. Sebab di sumatera barat hukum adat tanah pusaka memiliki andil dalam pertimbangan negosiasi alih kepemilikan. Sebenarnya hal ini justru baik dan tepat untuk masa depan daerah dan penduduk di wilayah tersebut.

Kita melihat misalnya, indomaret dan alfamart pun tidak ada di Solok, Bukit Tinggi dan mungkin di beberapa kabupaten dan kotamadya di Samatera Barat. Pertanda betapa kuatnya kesadaran protektif penduduk dan pemerintahan di sumatera barat akan kesinambungan kedaulatan mereka dari agresivitas modal dari bukan anak nagari.

Tetapi bagaimana dengan sumatera utara? Di wilayah ini, kondisi kapaitalisme tidak jauh berbeda dengan Sumatera Selatan. Semua boleh masuk, darimana pun anda, selama anda memberi keuntungan pada para pihak yang terlibat transaksi. Tentu saja bagi pejabat setempat.

Di sumatera utara, ada adagium dari kepanjangan SUMUT, yaitu semua urusan mesti uang tunai. Jadi jangan heran jika ada auditor bekerja dengan ketat dan tanpa kompromi, saya dapat duga tidak ada kabupaten/kota yang mendapatkan status Wajar Tanpa Pengecualiaan (WTP). Jalan raya dari Sidempuan yang melewati Kabupaten Tapanuli Selatan sampai ujung Kabupaten Padang Lawas Utara, banyak gelombang dan lobang-lobang. Pertanda ada masalah ketidakpedulian pejabat-pejabat setempat dengan keselamatan warganya dan para pelintas di daerah mereka.

Toko-toko juga tidak teratur dengan baik seperti di Lubuk Linggau menandakan semrawutnya urusan di daerah ini. Sepertinya, setiap pihak memamerkan dominasi dan kemegahannya.

Era otonomi daerah yang sejatinya dimaksudkan untuk menumbuhkan kemakmuran pada setiap penduduk di Kabupaten Madina, Kabupaten Tapsel dan Padang Lawas Utara misalnya, justru tampakmya kemiskinan dan kesenjangan kesejahteraan terlihat dengan nyata melalui rumah-rumah penduduknya yang sebagian masih jauh dari layak. Apalagi di Madina, pertambangan rakyat cukup mencolok di tepi-tepi sungai sehingga sangat rentan secara risiko lingkungan maupun sosial.

Di Sumatera Utara, watak sosialnya memang saya paham mengingat saya berasal dari daerah ini. Seorang pejabat pada umumnya merasa berhak dilayani ketimbang melayani. Feodalisme birokratis terasa sangat tebal. Jika seseorang menjadi pejabat atau jadi orang terpandang, hal itu dianggap sebagai pencapaian sosial yang menuntut harga untuk dipamerkan dan dikonversi sebagai simbol kekuasaan untuk previledge dan keangkuhan sosial. Bahkan untuk mengirimkan anak ke sekolah-sekolah dinas seperti akpol, akmil, stpdn, dan sejenisnya, orang Sumut berani bayar tinggi, bahkan bila perlu lelang kebun dan sawah. Ada kebanggaan dan pertaruhan hidup keluarga yang diperjudikan.

Inilah yang membuat suburnya korupsi di sumatera utara. Jadi saya tidak heran ada pejabat yang dikatrol sedemikian rupa dan akhirnya menjadi makanan kejaksaan. Saling makan dan mangsa juga biasa di sumut.

Rasanya jika membahas Sumut dengan karakteristiknya, tidak cukup martarombo (bertutur susur galur) satu hari satu malam. Ini semua sisa-sisa alam kolonialisme, feodalisme dan kemudian militerisme Orba yang begitu kuat menjangkiti kebudayaan penduduk sumatera utara. Sumatera utara yang di masa penjajahan merupakan sumatera timur. Pembaca harus tahu, sumatera timur merupakan lumbung kapital dari kolonialisme Belanda yang terpenting. Mulai dari perkebunan tembakau di Deli yang termasyhur itu kemudian melahirkan kota Medan, perkebunan sawit, karet hingga kopi. Anda ingat bukan kopi sidikalang dan kopi mandeling, itu adalah riwayat kolonialisme dan kapitalisme yang berakar kuat di sumatera utara.

Ciri dari masyarakan non demokratis, kapitalistik, kolonialistik dan di kemudian hari menjadi militeristik yaitu merayakan hirarki dan dominasi. Hirarki dan dominasi ini basisnya adalah seberapa banyak kapital dan kuasa-pengaruh yang Anda miliki, itulah rumus hidup di sumatera utara. Agama dengan perkembangan pondok-pondok pesantren hingga ormas keagamaannya seperti HKBP dan Alwashliyah-nya, tak berkutik dengan rumus hidup jahiliyah yang sudah megakar itu. Anda kaget, merupakan suatu gaya yang memberi kebanggaan di sumut, jika Anda menyelenggarakan pesta pernikahan, dengan memanjangnya karangan bunga hingga satu kilometer. Apalagi jika putera atau puteri yang anda nikahkan itu tamatan akademi atau sekolah kedinasan. Itulah sumatera utara yang subur dengan bibit-bibit korupsi.

Terkait

Jika Purbaya Direshuffle, Prabowo Sudah Tidak Berguna Lagi

Oleh: Sholihin MS, Pemerhati Sosial dan Politik. Tekanan politik kepada Prabowo untuk mereshufle Purbaya dari kekuatan hitam (Jokowi dan genk-nya) sangat kuat, terutama setelah Purbaya menolak membayar hutang Kereta Cepat…

Sebuah Kereta, Cepat Korupsinya

Oleh: Yusuf Blegur, Ketua Umum Relawan BroNies, Mantan Presidium GMNI. “Seperti pada kebanyakan proyek infrastruktur, apapun program dan pembangunan di republik ini, selalu membonceng perangai konspirasi, manipulasi dan korupsi. Ada…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Jika Purbaya Direshuffle, Prabowo Sudah Tidak Berguna Lagi

  • By eL Chan
  • November 1, 2025
  • 0
  • 360 views
Jika Purbaya Direshuffle, Prabowo Sudah Tidak Berguna Lagi

Sebuah Kereta, Cepat Korupsinya

  • By eL Chan
  • November 1, 2025
  • 0
  • 218 views
Sebuah Kereta, Cepat Korupsinya

Setahun Rezim Prabowo, Perbaikan atau Kerusakan Menahun?

  • By eL Chan
  • Oktober 24, 2025
  • 0
  • 260 views
Setahun Rezim Prabowo, Perbaikan atau Kerusakan Menahun?

Purbaya Berdaya, Menggempur Tipu Daya dan Politik Sandera

  • By eL Chan
  • Oktober 23, 2025
  • 0
  • 238 views
Purbaya Berdaya, Menggempur Tipu Daya dan Politik Sandera

Refleksi Kaum Pesantren yang Umumnya Buta Apa Itu Kapital, Bagaimana Kapital Dikumpulkan, Bagaimana Kapital Dioperasikan, dan Bagaimana Dampak Kapital dalam Mengeksploitasi Alam, Manusia dan Sejarah

Refleksi Kaum Pesantren yang Umumnya Buta Apa Itu Kapital, Bagaimana Kapital Dikumpulkan, Bagaimana Kapital Dioperasikan, dan Bagaimana Dampak Kapital dalam Mengeksploitasi Alam, Manusia dan Sejarah

Klasifikasi Kehidupan Sosial

Klasifikasi Kehidupan Sosial

Sampai Kapan Rakyat Kapok jadi Ternak Para Penguasa?

Sampai Kapan Rakyat Kapok jadi Ternak Para Penguasa?

Jokowi dan Skandal Ijazah Berjamaah

  • By eL Chan
  • Oktober 16, 2025
  • 0
  • 244 views
Jokowi dan Skandal Ijazah Berjamaah

Quo Vadis Jalur Gaza Setelah Todongan Perdamaian dari Trump untuk Hamas

Quo Vadis Jalur Gaza Setelah Todongan Perdamaian dari Trump untuk Hamas

Andaikan Aku Seorang Palestina-Jalur Gaza

Andaikan Aku Seorang Palestina-Jalur Gaza

Budaya Kita Musyawarah, Mengapa Pilpres Mesti One Man One Vote

Budaya Kita Musyawarah, Mengapa Pilpres Mesti One Man One Vote

Sistem MPR RI adalah Sistem Komunis?

Sistem MPR RI adalah Sistem Komunis?

Tidak Ada Istilah Kata Kita, Yang Ada Istilah Kami

Tidak Ada Istilah Kata Kita, Yang Ada Istilah Kami

Ganti Kapolri, Awal Reformasi Polri

  • By eL Chan
  • Oktober 9, 2025
  • 0
  • 399 views
Ganti Kapolri, Awal Reformasi Polri

Mau Kemana Reformasi Polri?

Mau Kemana Reformasi Polri?

Mayor Matnuin Hasibuan: Pendiri TKR Laut dan Pejuang Kemerdekaan di Bekasi yang Jarang Diketahui

Mayor Matnuin Hasibuan: Pendiri TKR Laut dan Pejuang Kemerdekaan di Bekasi yang Jarang Diketahui

Cara Perpikir Menkeu Baru Brilian Namun Perlu Keep Calm

Cara Perpikir Menkeu Baru Brilian Namun Perlu Keep Calm

UI, UGM, ITB: Tiga DNA Ekonomi Indonesia

UI, UGM, ITB: Tiga DNA Ekonomi Indonesia

Menakar Untung Rugi Sorbonne University Keluar dari Peringkat THE

Menakar Untung Rugi Sorbonne University Keluar dari Peringkat THE

Bahlil, Diserang Buzzer Jahat?

Bahlil, Diserang Buzzer Jahat?