Saat Prabowo Kudeta Prabowo

Oleh: Yusuf Blegur, Mantan Presidium GMNI.

Bisa saja Prabowo mengalami “point of no return” ketika terus tersandera oleh kekuatan Jokowi dan irisannya yang disebut Genk Solo. Bisa juga Prabowo berpotensi membuat “blessing in the sky” untuk lebih membela rakyat menghadapi kekuatan konspiratif dan korup yang menyelimuti pemerintahannya. Apapun pilihannya, kemungkinan Prabowo telah memasuki fase “kill or to be killed” dalam kurang dua tahun pemerintahannya.

(Bekasi-Suluhrakyat.com) – SEOLAH-OLAH sosok Jokowi yang sering disebut sebagai gembong Geng Solo dan sub koordinat oligarki ingin mengudeta Prabowo. Bagaimana mungkin? Lha wong Jokowi dan Prabowo telah menjadi satu kesatuan. Saat Jokowi presiden, Prabowo menjadi menteri dalam kabinet pemerintahannya. Begitupula saat Jokowi lengser, Jokowi mendukung Prabowo sebagai presiden dan putranya Gibran Rakabuming Raka menjadi wapresnya. Pesta demokrasi dengan mengusung konsep cawe-cawe Jokowi, sukses mengantar Prabowo dan Gibran memenangkan pilpres 2024 walaupun prosesnya memanipulasi konstitusi dan demokrasi serta Gibran yang disiapkan menjadi suksesor Prabowo.

Seolah-olah beberapa aksi unjuk rasa yang menimbulkan kerusuhan dan kematian didalangi Jokowi, padahal semua institusi keamanan negara seperti TNI-Polri, BIN, Menkopolhukam dan Mendagri di bawah komando Prabowo. Bahkan kalaupun menteri, panglima dan kepala lembaga pemerintahan itu dianggap orang-orang Jokowi dan membahayakan posisi Prabowo sebagai presiden. Prabowo aman dan nyaman saja tuh, tak ada satupun dari mereka yang dipecat atau setidaknya di-reshuffle. Prabowo justru memberikan kepercayaan penuh kepada mereka untuk bertindak tegas dan memulihkan keadaan dari demonstrasi yang mulai mengarah pada gerakan anarkis.

Kalau dibilang keputusan politik Prabowo sebagai presiden dinilai mulai menggusur kekuasaan dan pengaruh Jokowi yang masih kuat, ngga juga tuh. Buktinya Prabowo masih meneruskan kebijakan Jokowi. Bahkan Prabowo sering mengeluarkan kebijakan yang eksploitatif dan represif terhadap kehendak dan kepentingan rakyat, tak ubahnya yang sering dilakukan Jokowi. Semua kebijakan Prabowo terlihat identik dengan Kepentingan Jokowi, kalau tidak mau disebut hanya melanjutkan program Jokowi sebelumnya. Ini bisa diartikan Prabowo tidak ada bedanya dengan Jokowi, sama-sama menyusahkan rakyat kerap menyimpang dari konstitusi dan demokrasi. Keduanya tak ada simpati apalagi empati terhadap kesulitan hidup rakyat. Penindasan terus berlanjut, penderitaan rakyat mengalami kesinambungan.

Contohnya, penyusunan kabinet gemuk dengan banyak orang bermasalah hukum. Kenaikan pajak menjulang dan menyasar pada semua lini kehidupan rakyat. Satu sisi efisiensi, lain sisi pemborosan uang rakyat melalui kenaikan gaji DPR, hakim, guru dan rangkap jabatan wamen dan komisaris BUMN. Janji kampanye 19 juta lapangan kerja yang dibuktikan dengan jumlah pengangguran massal. Keberlanjutan utang yang menjadi kegemaran pemerintah. Memblokir 122 juta rekening rakyat sepihak, mencoba mengambil kepemikan tanah yang tidak diurus rakyat selama dua tahun. Mengumbar gelar kehormatan dan tanda jasa bagi orang-orang dekatnya dan yang tidak memiliki kelayakan serta masih banyak lagi seabrek kebijakan omon-omon yang inkonsisten. Prabowo begitu nyaman dan tetap percaya diri memimpin negara dalam bayang -bayang pengaruh dan kekuasaan Jokowi, di tengah penilaian publik tentang jabatannya sebagai presiden terancam dikudeta Jokowi dalam dua tahun.Dalam soal konstitusi dan demokrasi, jelas tak perlu dibahas lagi. Jokowi dan Prabowo terbukti menjadi bagian tak terpisahkan dari distorsi penyelenggaraan negara. Terlebih sikap Prabowo dalam merespon aksi unjuk rasa mahasiswa dan masyarakat yang berujung kerusuhan. Tanpa melihat dan mempertimbangkan latar belakang dan apa yang menjadi substansi dari demonstrasi yang masif di pelbagai daerah. Prabowo dengan cepat dan sigap menyatakan itu sebagai gerakan anarkis bahkan mengarah yang mengarah pada aksi teroris.

Pernyataan politik Prabowo sesungguhnya mengabaikan massa aksi yang radikal itu merupakan bentuk akumulasi dari kekecewaan, kemarahan dan ketidakpercayaan rakyat terhadap kepemimpinan nasional beserta semua produk-produk kebijakannya. Rakyat mulai jenuh pada kerusakan sistem dan penyelengaraan negara yang korup dan menindas baik dalam kepemimpinan dua periode Jokowi maupun keberlanjutannya era Prabowo.

Jadi kalau ada asumsi dan analisis berkedok data intelejen sekalipun bahwasanya muncul anasir-anasir kekuatan asing atau kelompok-kelompok kepentingan tertentu yang ingin mengganggu dan menggulingkan pemerintahan Prabowo. Sebutkan saja siapa mereka? Apakah Jokowi dan kelompoknya, rasanya tidak mungkin. Kalau itu terjadi, Prabowo akan mudah mematahkannya, karena Prabowo presiden berkuasa penuh yang menjadi panglima tertinggi TNI dan Polri serta sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan yang bisa menggerakan sumber daya politik, hukum dan ekonomi dan pertahanan keamanan negara.

Lantas, kenapa semua kekacauan yang mulai mengarah kehancuran republik ini terus berlangsung? Jawabannya sederhana, karena kepemimpinan Prabowo terlalu lemah bahkan dalam perjalanannya dinilai tidak memiliki kapasitas yang memadai. Seribu Jokowi dan seribu oligarki jika memang ada, tak akan berarti jika menghadapi hanya seorang Prabowo yang memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat dan berintegitas serta didukung mayoritas rakyat.

Kalau selama ini dianggap lemah, ya lemah karena Prabowo membiarkan dirinya ambigu dan ambivalen di hadapan orang-orang atau kelompok tertentu yang tidak ingin melihat rakyat berdaulat dan sejahtera. Lemahnya Prabowo juga karena Prabowo membiarkan dirinya terus tersandera oleh kontrak politik atau mungkin skandal tertentu dari mereka yang punya kekuatan dan tidak ingin negara dan bangsa Indonesia menjadi besar dengan prinsip-prinsip keadilan dan kesejahteraan.

Jadi karena kelemahan Prabowo itu, begitu banyak perspektif yang mengemuka yang mengungkapkan Prabowo terancam dikudeta. Dikudeta oleh siapa? Semua ngga jelas dan absurd. Kelak akan terbukti Prabowo menjadi faktor penting yang berkontribusi besar menimbulkan kemunduran, kekacauan dan kehancuran bangsa ini. Kelemahannya yang kerap muncul dalam bentuk inkonsistensi dan tidak memilik skala prioritas dalam kebijakan pemerintahan serta sudah mulai tampak gaya kepemimpinan fasis dan totaliter. Membuat Prabowo sulit mewujudkan janji-janji kampanye pilpresnya, ditambah pendampingnya hanya boneka hidup Jokowi yang menuai beban politiknya.

Paling rasional dan realistis, saking lemahnya Prabowo tidak memiliki keberanian melakukan perubahan dan perbaikan pada rakyat, negara dan bangsa Indonesia. Hal itulah yang menjadi ancaman buat Prabowo sendiri. Kelemahan yang akan menyebabkan terjadinya peristiwa politik dua muka Prabowo. Politik dua muka Prabowo yang tidak berkolerasi dengan kepentingan rakyat. Politik dua muka Prabowo yang akan menciptakan perangnya sendiri, antara menjadi penjahat dan pengkhianat bagi bangsa Indonesia atau memilih menghidupkan nasionalisme dan patriotisme dalam dirinya.

Bukan lantas sering teriak ada kepentingan asing dan terus mencari kambing hitam dalam setiap terjadi gejolak politik. Terlebih ketika kebuntuan datang saat kekuasaan pemerintahannya terdesak, tuduhan makar menjadi senjata ampuh untuk mulai menggerakan fasisme dan totaliterianisme. Padahal, bisa jadi ada pergumulan dan konflik batin dalam diri seorang Prabowo, tatkala sadar atau tidak sadar, Prabowo sesungguhnya sedang menghadapi dirinya sendiri karena kekuasaan tak terbatas kini digengamnya. Seorang Prabowo yang sedang melawan Prabowo, apakah sisi baik Prabowo yang tersingkir atau sisi jahat Prabowo yang mengemuka. Terlepas ada pembisik, persekongkolan dan dan siasat di sekelilingnya, sejatinya sedang terjadi Prabowo kudeta Prabowo. [el]

Terkait

Jika Purbaya Direshuffle, Prabowo Sudah Tidak Berguna Lagi

Oleh: Sholihin MS, Pemerhati Sosial dan Politik. Tekanan politik kepada Prabowo untuk mereshufle Purbaya dari kekuatan hitam (Jokowi dan genk-nya) sangat kuat, terutama setelah Purbaya menolak membayar hutang Kereta Cepat…

Sebuah Kereta, Cepat Korupsinya

Oleh: Yusuf Blegur, Ketua Umum Relawan BroNies, Mantan Presidium GMNI. “Seperti pada kebanyakan proyek infrastruktur, apapun program dan pembangunan di republik ini, selalu membonceng perangai konspirasi, manipulasi dan korupsi. Ada…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Jika Purbaya Direshuffle, Prabowo Sudah Tidak Berguna Lagi

  • By eL Chan
  • November 1, 2025
  • 0
  • 360 views
Jika Purbaya Direshuffle, Prabowo Sudah Tidak Berguna Lagi

Sebuah Kereta, Cepat Korupsinya

  • By eL Chan
  • November 1, 2025
  • 0
  • 218 views
Sebuah Kereta, Cepat Korupsinya

Setahun Rezim Prabowo, Perbaikan atau Kerusakan Menahun?

  • By eL Chan
  • Oktober 24, 2025
  • 0
  • 260 views
Setahun Rezim Prabowo, Perbaikan atau Kerusakan Menahun?

Purbaya Berdaya, Menggempur Tipu Daya dan Politik Sandera

  • By eL Chan
  • Oktober 23, 2025
  • 0
  • 238 views
Purbaya Berdaya, Menggempur Tipu Daya dan Politik Sandera

Refleksi Kaum Pesantren yang Umumnya Buta Apa Itu Kapital, Bagaimana Kapital Dikumpulkan, Bagaimana Kapital Dioperasikan, dan Bagaimana Dampak Kapital dalam Mengeksploitasi Alam, Manusia dan Sejarah

Refleksi Kaum Pesantren yang Umumnya Buta Apa Itu Kapital, Bagaimana Kapital Dikumpulkan, Bagaimana Kapital Dioperasikan, dan Bagaimana Dampak Kapital dalam Mengeksploitasi Alam, Manusia dan Sejarah

Klasifikasi Kehidupan Sosial

Klasifikasi Kehidupan Sosial

Sampai Kapan Rakyat Kapok jadi Ternak Para Penguasa?

Sampai Kapan Rakyat Kapok jadi Ternak Para Penguasa?

Jokowi dan Skandal Ijazah Berjamaah

  • By eL Chan
  • Oktober 16, 2025
  • 0
  • 244 views
Jokowi dan Skandal Ijazah Berjamaah

Quo Vadis Jalur Gaza Setelah Todongan Perdamaian dari Trump untuk Hamas

Quo Vadis Jalur Gaza Setelah Todongan Perdamaian dari Trump untuk Hamas

Andaikan Aku Seorang Palestina-Jalur Gaza

Andaikan Aku Seorang Palestina-Jalur Gaza

Budaya Kita Musyawarah, Mengapa Pilpres Mesti One Man One Vote

Budaya Kita Musyawarah, Mengapa Pilpres Mesti One Man One Vote

Sistem MPR RI adalah Sistem Komunis?

Sistem MPR RI adalah Sistem Komunis?

Tidak Ada Istilah Kata Kita, Yang Ada Istilah Kami

Tidak Ada Istilah Kata Kita, Yang Ada Istilah Kami

Ganti Kapolri, Awal Reformasi Polri

  • By eL Chan
  • Oktober 9, 2025
  • 0
  • 399 views
Ganti Kapolri, Awal Reformasi Polri

Mau Kemana Reformasi Polri?

Mau Kemana Reformasi Polri?

Mayor Matnuin Hasibuan: Pendiri TKR Laut dan Pejuang Kemerdekaan di Bekasi yang Jarang Diketahui

Mayor Matnuin Hasibuan: Pendiri TKR Laut dan Pejuang Kemerdekaan di Bekasi yang Jarang Diketahui

Cara Perpikir Menkeu Baru Brilian Namun Perlu Keep Calm

Cara Perpikir Menkeu Baru Brilian Namun Perlu Keep Calm

UI, UGM, ITB: Tiga DNA Ekonomi Indonesia

UI, UGM, ITB: Tiga DNA Ekonomi Indonesia

Menakar Untung Rugi Sorbonne University Keluar dari Peringkat THE

Menakar Untung Rugi Sorbonne University Keluar dari Peringkat THE

Bahlil, Diserang Buzzer Jahat?

Bahlil, Diserang Buzzer Jahat?