Oleh: Bhre Wira, Pengamat Sosial.
Gen Milenial dan Gen Z merupakan generasi yang berbeda secara selera, gaya hidup dan cara berpikir, dengan generasi-generasi sebelum mereka. Gen Milenial dan Gen Z inilah saat ini yang menjadi komponen terbesar dari penduduk Indonesia dan memiliki andil signifikan secara elektoral dan konsumsi.
Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia 2020, Milenial mencapai 25,87% dan Gen Z 27,94% dari total penduduk Indonesia. Rentang tahun Milenial adalah sekitar 1981-1996, sementara Gen Z lahir pada 1997-2012, dengan definisi yang mungkin sedikit berbeda-beda di setiap negara dan lembaga.
Jangan Meremehkan Gen Milenial dan Gen Z
Ketika demonstrasi yang berujung guncangan bagi stabilitas politik pada akhir Agustus 2025 yang lalu dan eksesnya masih terasa sekarang, dua figur yang mewakili milenial dan gen Z, mencuat ke publik. Pertama, Ferry Irwandi yang kini tengah mengalami tekanan dari TNI sebagai ekses dari peristiwa tersebut. Ferry dikenal vokal dan kerap dirujuk sebagai representasi dari suara dan aspirasi yang menentang ketidakadilan saat ini. Adapun Khariq Anhar, seorang aktivis mahasiswa semester 10 di Fakultas Pertanian Universitas Riau. Dengan demikian, secara umur merupakan representasi gen Z. Khariq Anhar kini ditahan oleh aparat negara.
Gen Milenial merupakan generasi yang akrab dengan dunia digital, dengan ciri penggunaan perangkat komputer, smartphone, internet, aplikasi, dan teknologi komunikasi dan informasi lainnya dalam ritme kehidupan sehari-hari. Informasi yang melimpah dan cepat dari berbagai tempat di dunia yang tersalur lewat beragam platform media sosial dan mesin pencari, hal yang lumrah bagi generasi ini. Sedangkan gen Z disebut lebih unggul lagi. Karena sejak lahir telah tumbuh bersama perangkat digital, maka generasi ini disebut digital native. Akibatnya, masing-masing dari generasi ini sangat kaya dan melimpah dengan informasi, apalagi yang viral. Mereka pun dapat mengeksploitasi informasi tersebut dengan keterapilan mereka menggunanakan beragam aplikasi, dari rekayasa gambar, video, suara dan teknologi penyebarannya melalui pemanfaatan algoritma.
Jadi intinya, kedua generasi ini, jangan coba-coba Anda tipu, Anda tutupi informasi ke mereka. Kontan mereka akan mentracking Anda, membongkar siapa Anda dan kemudian memviralkan Anda.
Kedua, mereka ini memiliki sifat ingin tahu (kuriositas) yang kuat, terutama terkait hal-hal yang tidak lazim dan ganjil. Dan ketergantungan pola hidup mereka dalam komunikasi secara digital, menimbulkan sifat ego yang tinggi, tapi tidak menjadi pribadi yang sepenuhnya elienatif, akibat mereka tetap terhubung secara sosial melalui media sosial. Mereka tidak sepenuhnya kesepian, ada banyak tontonan digital, game online dan media sosial yang mengatasi masalah tersebut. Karena itu, mereka sejatinya sangat peduli terhadap masalah sosial, dan dari sinilah mereka pun sangat peduli terhadap politik. Sebabnya wajar, mereka yang peduli terhadap masalah sosial politik, biasanya bermula dari melimpahnya informasi sosial dan politik yang mereka serap. Hanya orang yang buta dan tidak punya informasi yang tidak peduli dengan keadaan sosial dan politik.
Generasi dengan tipe semacam itulah sekarang ini yang potensial mengubah keadaan di Indonesia. Hari ini, gen Milenial dan gen Z telah menunjukkan taringnya di Nepal. Ini gejala yang tidak boleh dipandang remeh. Tampak mereka tidak terorganisasi, tapi masalahnya termobilisasi dengan mudah. Jangankan isu ketidakadilan dan korupsi, isu kucing saja mereka bereaksi. Apalagi jika dua generasi ini tertindas oleh sistem, terhadap kebutuhan hidup mereka, untuk survive seperti pekerjaan dan sumber pemasukan, maka konsekwensinya memang bisa membahayakan. Dan nasib negara Nepal saat ini yang diporak-porandakan gen Z menjadi iktibar bagi siapa pun.
Kasus Ferry Irwandi
Sekarang ini kita semua tahu bahwa figur tipikal dari generasi milenial ini telah ditantang oleh institusi TNI. Saya tidak tahu, berapa banyak aspek yang dipertimbangkan oleh TNI, tatkala memutuskan untuk memperkarakan secara hukum Ferry Irwandi. Saya kira kalau hanya pendapat dan kritik Ferry Irwandi yang menyerempet TNI, tentu terlalu dini jika disimpulkan sebagai tindakan mencemarkan nama baik TNI sehingga harus diadukan ke polisi. Akibatnya, kasus Ferry Irwandi ini semakin menyedot perhatian, terutama gen milenial dan gen Z. Gen Z ini, tidak bisa dibungkam, apalagi diteror. Mereka secara sporadis dapat bereksi sehingga berkembang akumulatif.
Yang paling mendesak saat ini ialah memberikan kesejateraan pada gen milenial dan gen Z. Jangan biarkan mereka merasa tertindas dan terzalimi, dan jangan biarkan mereka menyaksikan ketimpangan dan kesenjangan kemakmuran di dalam masyarakat. Karena kenyataannya, gen milenial dan gen Z saat ini, telah banyak menjadi bagian dari ojol, kurironline, marketing serabutan, dan apa saja untuk bisa bertahan hidup dan sekedar nongkrong di Warmindo.













