Oleh: Chandra Suwono, Pemerhati Geopolitik dan Sosial Ekonomi.
Kalau kita telusuri, sebenarnya melihat fenomena global sekarang, Tiongkok tidak bangkit, tetapi hanya mengulang sejarah. Yaitu kembali ke tempat yang dulu pernah mereka duduki selama hampir dua milenium.
Jika hari ini kita terkesima melihat dan menyaksikan kebangkitan Tiongkok, itu bukan sesuatu yang datang dengan tiba-tiba. Kita mesti tahu, ini tidak terlepas dari akar sejarah panjangnya yang telah membentuk fondasi kekuatan mereka hari ini.
Mari kita bicara setelah tahun Masehi saja supaya tidak berkepanjangan. Siapa yang hampir 2000 tahun menjadi pusat gravitasi ekonomi dunia? Bukan Eropa, apalagi Amerika Serikat (AS) belum lahir tuh. Tapi Tiongkok mengenggam sepertiga ekonomi global dari tahun 0 – 1840 M. Sain, teknologi, kekayaan dan pusat perdagangan global ada di Tiongkok. Terbayang tidak kalau ini terjadi jauh sebelum Eropa mengenal mesin uap.
Nah ini penting sekali, segalanya hancur pada abad ke-19. Tiongkok mau dikoloni, kekayaannya dirampas, dan negaranya dilanda perang dan kelaparan. Dunia pun mencibir Tiongkok sebagai negeri miskin, tertinggal dan tidak berdaya. Tapi hari ini, semuanya telah berubah. Mereka bukan sekadar bangkit. Mereka muncul sebagai sebagai kekuatan dengan angka-angka yang nyaris tidak masuk akal. Coba bayangkan, bagaimana negara yang pernah terkubur dalam kelaparan nasional, sekarang menjadi penentu barang-barang yang beredar di dunia. Bagaimana negara yang sebelumnya dianggap tidak berdaya, kini malah menjadi kekuatan ekonomi terdepan di dunia. Menggusur negara preman dunia yang katanya adidaya.
Namun, kita harus pahami, setiap angka dalam perekonomiannya hari ini adalah cerminan masa lalu Tiongkok. Mereka yang pernah gemilang dan luka panjang yang pernah mengoyak-ngoyak peradaban mereka. Sekarang malah dibalik, loncatan ekonomi itu tersembunyi, sebuah rahasia yang selama ini tidak benar-benar kita perhitungkan.
Mari kita telusuri secara lebih mendalam dari masa lalu hingga saat ini, satu kebenaran yang tidak terbantahkan. Dominasi ekonomi Tiongkok bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari sejarah panjang yang apinya tidak pernah benar-benar padam. Selama lebih dari 1800 tahun dari masa Dinasti Han abad ke-1 hingga akhir Dinasti Qing (Cing) abad 19, Tiongkok merupakan kekuatan ekonomi terbesar di muka bumi ini. Bukan hanya sekadar besar, tetapi dominan secara mutlak.
Menurut studi historis yang dilakukan oleh Ekonomist Madison, pada tahun 1500 ekonomi Tiongkok menyumbang 30% dari PDB global. Dan pada tahun 1820 angkanya malah naik menjadi 32.9%. Hampir sepertiga ekonomi dunia berasal dari satu negara,Tiongkok.
Nah ini paling penting, Tiongkok mencapai dominasinya tanpa kolonialisme, tanpa memeras atau menjarah bangsa lain. Sebaliknya, dunia justru berbondong-bondong datang ke Tiongkok untuk membeli produk-produk mereka, seperti: sutra, teh, porselen, logam hingga teknologi kertas dan percetakan. Produk-produk ini bukan sekedar komoditas dagang, melainkan standar kemewahan global. Bangsawan Eropa meminum teh dari Tiongkok. Menyantap hidangan dengan porselen Tiingkok. Menulis di atas kertas yang pertama kali ditemukan oleh Bangsa Tiongkok pada ribuan tahun silam. Ketika Bangsa Eropa masih merintis perdagangan laut nya, Tiongkok sudah membangun jalur perdagangan darat dan laut sejak berabad-abad sebelumnya. Jalur perdagangan sutra membentang ribuan km menghubungkan Tiongkok dengan Asia Tengah, Persia, India hingga Eropa. Bahkan kapal-kapal dari Dinasti Tang dan Dinasti Song telah menjelajahi Samudera Hindia jauh sebelum armada Columbus berlayar untuk menemukan dunia baru.
Dan patut diketahui, Tiongkok bukan hanya sekedar tempat produksi, tapi juga pusat inovasi. Dinasti Song 969-1279 memperkenalkan uang kertas pertama di dunia, sistem perpajakan berbasiskan tanah, teknologi pertanian yang canggih seperti pompa air kincir serta rotasi tanam.
Kemudian, Dinasti Tang, dari 618-907 memperkenalkan birokrasi berbagai ujian negara, berdasarkan meritokrasi. Ini adalah sebuah konsep administrasi publik yang jauh lebih modern dari kerajaan manapun di masanya. Ekonominya ditopang oleh pertanian yang sangat produktif, kerajinan tangan yang bernilai tinggi, serta sistem distribusi barang yang luas dan stabil. Kota kota seperti Kai-Feng (Zheng-Zhou, Henan) Hang Zhou, Guang Zhou menjadi magnet perdagangan Internasional.
Mereka dikunjungi oleh para pedagang dari Arab, Persia, India hingga Eropa. Pendapatan negara tinggi, pasokan stabil, dan masyarakat hidup dalam siklus kerja yang efisien. Inilah era keemasan ketika ketika seluruh dunia menengok ke timur. Dan Tiongkok sebagai simbol kekayaan, ketertiban dan kemajuan. Semua ingin berdagang dengan mereka. Semua ingin belajar dari mereka. Dan secara langsung atau tidak, semua bangsa bergantung pada kekuatan ekonomi mereka.
Nah ini jadi catatan penting. Semua peradaban besar dalam sejarah, kejayaan itu tidak abadi. Semakin besar sebuah kekuatan, semakin besar pula guncangan yang akan datang.
Memasuki abad ke-19 arah sejarah mulai bergeser. Bangsa-bangsa Barat tidak lagi datang sekadar berdagang, tapi untuk menaklukkan. Dan ini awal dari babak tergelap dalam sejarah Tiongkok. Sebuah babak panjang yang penuh kehancuran, penjajahan. Dan yang lebih parah lagi, hilangnya identitas yang berlangsung selama lebih dari satu abad. Segala kekayaan yang dibangun selama 2000 tahun mulai runtuh dalam satu abad yang penuh bencana.
Ini dimulai tahun 1839,menjadi titik yang kelam. Inggris yang kala itu sedang memperluas koloni dan jaringan perdagangan globalnya tiba-tiba mengalami defisit perdagangan dengan Dinasti Qing, Tiongkok. Jadi begitu banyak permintaan barang dari Tiongkok seperti: sutra, teh, porselen dan semuanya diborong Inggris dari Tiongkok. Sebaliknya Tiongkok sendiri tidak tertarik (tidak ada) produk inggris yang bisa dibelinya. Kesenjangan ini menciptakan masalah yang serius bagi ekonomi Inggris, kehabisan perak untuk membayar Tiongkok. Maka Inggris pun mencari solusi yang keji dan jahat yaitu candu. Mereka menyeludupkan narkotika ke Tiongkok lewat pelabuhan-pelabuhan selatan. Mengajari dan membuat jutaan rakyat kecanduan dan memicu kerusakan moral yang masif.
Nah ketika Kaisar QING (Cing) melihat rakyatnya menderita, mencoba menghentikan peredaran candu dan menyita persediaan Inggris di pelabuhan. London langsung membalasnya dengan meriam, membombardir Pantai-pantai Selatan Timur Tiongkok. Dan perang candu pertama yang berlangsung dari tahun 1939-1942 akhirnya pecah, dan Tiongkok kalah telak. Ini bukan sekadar kekalahan militer, tapi ini awal dari serangkaian perjanjian-perjanjian penghinaan.
Dalam Perjanjian Nan-Jing, Tiongkok dipaksa menyerahkan Hongkong kepada Inggris, membuka 5 pelabuhan untuk perdagangan asing, membayar ganti rugi perang dalam jumlah besar.
Tidak berselang lama, perang candu kedua meletus, Inggris minta pelabuhan Hongkong diperbesar dengan mengambil daratan Tiongkok, Kow-Loon/Jiu Lung dan Hongkong New Teritorial. Itulah Hongkong yang kita kenal sekarang. Dan Kekaisaran Qing semakin kehilangan kendali atas negerinya sendiri.
Di tengah tekanan dari luar ini, pada tahun 1850 sebuah tragedi yang jauh lebih mematikan, yakni Pemberontakan Tai-Ping. Pemberontakan ini paling berdarah sepanjang sejarah Tiongkok dengan korban lebih dari 20 juta jiwa dipimpin oleh seorang Hong Xiu Guan 1850-1864. Ini tragedi paling mengerikan sepanjang sejarah manusia yang korbannya setara dengan korban perang dunia. Kota-kota hancur, sawah-sawah terbakar, dan rakyat mati kelaparan.
Kondisi belum sempat pulih, serangan baru sudah datang dari Jepang. Perang Tiongkok-Jepang, Sino-Jepang berlangsung dari tahun 1894-1895. Berakhir dengan kekalahan yang sangat memalukan bagi Tiongkok. Mereka harus menyerahkan Taiwan, membayar ganti rugi besar dan mengakui Jepang sebagai kekuatan baru dari di Asia Timur. Dunia pun melihat Sang Naga Raksasa dari Timur telah lumpuh. Dan puncak dari penghinaan ini datang pada tahun 1900.
Ketika Pemberontakan Boxer muncul sebagai upaya perlawanan terakhir rakyat Tiongkok terhadap campur tangan asing. Sebetulnya para Boxer ini ingin mengusir semua pengaruh Barat bertempur dengan gagah berani, namun lagi-lagi Tiongkok harus menelan pil pahit, kalah. Pasukan dari koalisi 8 negara termasuk Inggris, Jerman, Jepang, Uni Soviet, Hongaria, Italia, Perancis, Austria dan Amerika Serikat. Mereka memasuki Kota Beijing, memperkosa, merampok, membakar, menjarah istana musim panas, mempermalukan Kaisar, memaksa perjanjian baru yang jauh lebih menghina.
Semua bencana terjadi hanya dalam satu abad, kurang dari 100 tahun. Negara yang menyumbang sepertiga dari ekonomi dunia itu kehilangan kendali atas wilayahnya. Kehancuran dan penderitaan rakyatnya tidak berhenti di situ.Sampai akhirnya pada tahun 1911 Dinasti Qing/Cing runtuh. Ini menandakan berakhirnya sistem monarki dari dinasti ke dinasti selama ribuan tahun.
Pada tanggal 11 Maret 1911 Sun Yat Sen mendirikan Republik Of China setelah Revolusi Xin-Hai berhasil mengambil alih kekuasaan Tiongkok. Namun, ini bukanlah republik yang stabil dan damai seperti yang diharapkan. Yang muncul justru kekacauan. Militer terpecah belah, wilayah pun terpecah-pecah. Wilayah-wilayah jatuh ke tangan penjajah. Puncaknya adalah Tragedi Pembantaian Nan-Jing pada tahun 1937. Sebanyak 300.000 jiwa lebih warga sipil perempuan dan anak-anak dibantai dalam waktu hanya beberapa minggu oleh Jepang yang luar biasa kejamnya (the Rape of Nan-Jing).
Kemudian, di tengah invasi dan penjajahan Jepang, perang saudara pun meletus antara dua kekuatan besar, Partai Nasionalis (Guo Min Dang) yang didukung oleh Barat melawan Partai Komunis Tiongkok (Kung Chang Dang) yang dipimpin Mao Zedong. Jepang akhirnya menyerah pada tahun 1945. Namun bukan kedamaian yang muncul, justru muncul kekosongan kekuasaan. Dan perang saudara semakin brutal antara Nasionalis vs Komunis.
Barulah pada tanggal 1Oktober 1949 Partai Komunis menang dan berdirilah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang diproklamirkan oleh Mao Ze Dong di Lapangan Tian An Men. Sedangkan Partai Nasionalis/Guo Min Dang mengungsi ke Taiwan. Dan saat ini sudah waktunya untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. [el]
















