Oleh: Chandra Suwono, Pemerhati Geopolitik, Sosial dan Ekonomi.
Mungkin kita tergelitik untuk bertanya, mungkinkah kita merasa aneh ketika setiap kali kita menyebut negara Komunis Tiongkok (China), yang kita bayangkan adalah sebuah negara atheis tanpa agama? Benarkah faktanya seperti itu?
Nah, sekarang mati kita mencoba untuk melihat satu kota kecil yang terkenal dengan 3000 masjidnya, yaitu Prefektur Suku Hui di Kota Ning-Xia Provinsi Gan-Su, Tiongkok Barat. Prefektur adalah sebuah unit pembagian wilayah yang memiliki struktur pemerintahan sendiri, berfungsi untuk menjalankan administrasi, dan melayani penduduk di wilayah tersebut.
Kota Ning-Xia juga dijuluki Mekkah Kecil (Little Mecca) di Tiongkok. Di samping banyaknya masjid yang satu sama lainnya berdekatan, tapi juga dengan berbagai ukuran dan keunikannya tersendiri. Di kota ini lebih dari 55% masyarakat Ning-Xia itu beragama Islam. Mereka adalah salah satu suku minoritas yang ada di Tiongkok, yaitu Suku Hui.
Kota Ning-Xia adalah titik penting dalam jalur perdagangan sutra kuno yang menghubungkan Asia Timur, Asia Tengah hingga Eropa. Awal masuknya agama Islam ke Tiongkok melalui utusan yang dikirim oleh Khalifah Utsman bin Affan, yang memerintah selama 12 tahun periode 23-35 H/644-656 M. Namun versi lainya, berikut catatan karya Chee Chea Zoo (perihal kehidupan Nabi SAW) Islam juga dibawa oleh rombongan yang dipimpin panglima Saad bin Abi Waqqas bersama dengan para sahabatnya.
Setelah kunjungan pertamanya, Saad kemudian kembali ke Arab. Ia kembali lagi ke Tiongkok 21 tahun kemudian atau pada masa Pemerintahan Utsman bin Affan, dan datang dengan membawa salinan Al-Qur’an. Pada kedatangannya yang kedua pada tahun 650 M ini, Sahabat Nabi Saad bin Abi Waqqas dengan berlayar melalui Samudera Hindia ke laut China menuju pelabuhan laut di Kota Guangzhou. Kemudian Saad berlayar ke Chang-An atau kini dikenal dengan nama Xi-An (Terakota) dan rute ini kemudian dikenal dengan jalur sutra.
Tapi, rombongan Panglima Saad bin Abi Waqqas ini datang bukan hanya berdagang, tapi mereka juga menyebarkan agama Islam ke Tiongkok. Setelah mendapat persetujuan dari Kaisar Kao-Tsung (650-683 M) dari Dinasti Tang (618-997 M) yang berkuasa di Tiongkok saat itu. Sang Kaisar pun dapat memberi izin untuk agama Islam disebarkan di Tiongkok. Hal ini bisa terjadi setelah melalui proses penyelidikan dan dirasakan cocok dengan ajaran Konfusius yang telah hidup di Tiongkok selama ribuan tahun.
Dari sini kita bisa melihat dengan jelas kalau agama Islam masuk ke Tiongkok itu melalui 2 jalur sutra: pertama, jalur darat dari sisi barat Tiongkok seperti ke Ning-Xia prefektur Gan-Su, Xin-Jiang. Kedua, jalur maritim melalui sisi timur Tiongkok, Kota Guangzhou. Dan di sana juga terdapat makam Sahabat Nabi, Saad bin Abi Waqqas.
Para pedagang Arab dan Persia yang berdagang ke Tiongkok kemudian melakukan akulturasi dengan penduduk setempat. Sehingga membentuk satu komunitas baru yang disebut Suku Hui yang saat ini merupakan suku minoritas terbesar ketiga di Tiongkok. Tapi di sini juga disebut total ada 10 suku minoritas yang akhirnya menganut agama Islam, antara lain Suku Uighur, Kazak, Uzbek, Tongsiang, dll.
Perlu diketahui, point yang sangat penting adalah pada awal abad-13, ketika pasukan Mongolia (Dinasti Yuan) melakukan ekspedisi ke barat. Orang-orang muslim dari Asia tengah Persia dan Arab bermigrasi ke Tiongkok bercampur dengan Suku Han, Suku Mongolia dan Suku Uighur. Sehingga agama Islam itu bukan hanya di Ning-Xia atau Xin-Jiang, Tiongkok Barat, tapi tersebar hampir seluruh pelosok Tiongkok, seperti di Yun-Nan, Guang-Zhou, Xi-An (jalur sutra) bahkan Kota Bei-Jing ibu kota negara saat ini.
Kita ingatkan Laksamana Cheng Ho yang membawa agama Islam ke tanah Jawa? Dia itu dari Yun-Nan, Suku Hui.
Sehingga perlu diketahui juga, bahwa agama Islam di Tiongkok itu mereka sebut Hui-Jiao, artinya agama Suku Hui, bukan agama Suku Uighur. Dulu ibu kota Negara Tiongkok adalah di Kota Lang-Zhou yang berjarak kurang lebih 150 KM dari Kota Ning-Xia. Jadi orang-orang di jalanan Kota Ning-Xia, kaum perempuannya pada umumnya juga memakai hijab dan kaum lelakinya juga memakai peci.
Pemandangan kota kecil Ning-Xia itu banyak sekali masjid-masjid besar maupun kecil. Kadang jarak antara masjid satu dengan masjid lainnya itu hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Arsitektur masjidnya pun unik sekali. Perpaduan antara arsitektur Tiongkok dengan arsitektur Arab. Tembok dengan ukiran batu dikombinasikan dengan ukiran dari kayu. Sangat unik!
Nah, ini penting untuk diketahui. Kini, di Tiongkok kalau ada yang meninggal pemerintahnya lebih menganjurkan untuk dikremasi. Karena lahan untuk pemukiman aja sudah sempit, bagaimana harus dibagi lagi untuk orang yang telah meninggal dunia? Tapi khusus untuk minoritas muslim, pemerintah tetap memberikan tanah untuk pemakaman. Dan ini sama seperti di sini (Indonesia-red) juga ada upacara pemakaman di masjid. Dan banyak armada bus yang standby dekat masjid untuk mengantar tamunya ke lokasi pemakaman.
Jadi singkatnya, justru kalau kita mengaitkan agama dengan filosofi komunis itu sebenarnya tidak nyambung. Tetapi faktanya di Tiongkok, selain agama atau kepercayaan lokal, Taoisme dan Konfusius, ribuan tahun lalu mereka sudah bisa menerima agama import, hidup damai berdampingan, tidak ada diskriminasi antara mayoritas-minoritas. Bahkan pria-wanita pun tidak ada diskriminasi, persamaan jender. [el]
















