Kekalahan Mardiono di Muktamar Bukti Kuatnya Isu Perubahan di Internal PPP

Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemehati Bangsa.

Muktamar PPP ke-10 sudah selesai lebih cepat dari rencana. Muktamar yang sedianya diselenggarakan tanggal 27 hingga tanggal 29 September 2025 di Hotel Mercure Jaya Ancol Jakarta Utara ini akhirnya dipercepat dan ditutup tanggal 28 September malam. Mukmatar PPP ke-10 diikuti oleh dua kandidat calon ketua umum: yaitu Agus Suparmanto dan Mardiono. Sebagaimana umumnya pemilihan ketua umum sebuah partai, akan selalu ada dinamika politik yang cukup memanas. Di awal sidang pembahasan AD/ART, kericuhan terjadi. Pimpinan sidang M. Amir Uskara, yang notabenen pendukung Mardiono berupaya menggiring Muktamirin untuk menetapkan AD/ART lama. Ini seperti telah menjadi bagian strategi yang dipersiapkan kubu Mardiono untuk menjegal Agus Suparmanto. Dalam AD/ART lama, syarat menjadi ketum PPP harus kader PPP yang pernah menjadi pengurus DPP PPP selama lima tahun. Sementara Agus Suparmanto tidak memenuhi syarat itu. Di sinilah area pertarungan paling menentukan bagi pencalonan Agus Suparmanto.

Upaya Amir Uskara jegal Agus Suparmato gagal. Amir Uskara mendapatkan interupsi dari Muktamirin. Dari sinilah kericuhan terjadi, dan Amir Uskara meninggalkan ruang sidang saat kericuhan. Pimpinan sidang kemudian diganti dan dilanjutkan oleh Qoyum Abdul Jabbar.

Sidang yang diikuti oleh lebih dari 2/3 peserta Muktamirin dan dipimpin oleh Qoyum Abdul Jabbar ini menyepakati AD/ART baru yang memberi ruang kepada siapapun untuk calon ketum PPP, tanpa mencantumkan syarat pernah menjadi pengurus DPP PPP selama lima tahun.

Dengan AD/ART baru ini, Agus Suparmanto bisa masuk menjadi calon ketum PPP. Sidang berikutnya membahas Tata Tertib Pemilihan Umum. Puncaknya adalah sidang pemilihan ketua umum PPP. Dalam sidang pemilihan ketua umum PPP, Agus Suparmanto secara aklamasi terpilih menjadi ketua umum PPP periode 2025-2030.

Keterpilihan Agus Suparmanto sebagai ketua umum PPP terjadi setelah rangkaian Muktamar PPP ke-10 berjalan sampai akhir.

Sebelumnya, ketika Amir Uskara yang menjadi ujung tombak kubu Mardiono keluar ruangan sidang, beberapa jam kemudian muncul klaim keterpilihan Mardiono secara aklamasi. Klaim ini diumumkan, kata Romahurmuzi, di sebuah kamar hotel di luar arena sidang.

Nampaknya, kubu Mardiono telah menyiapkan strategi ini. Jika gagal hadang Agus Suparmanto di AD/ART, mereka akan umumkan kemenangan aklamasi. Sekitar ada tiga media yang telah disiapkan. Benar saja, ketika Amir Uskara diinterupsi Muktamirin, kubu Mardiono langsung umumkan kememangan di luar arena Muktamar di Ancol saat sidang masih berlangsung dalam pembahasan AD/ART. Artinya, sidang AD/ART saja belum selesai, kubu Mardiono sudah umumkan kemenangan.

Kenapa kubu Mardiono melakukan strategi penjegalan Agus Suparmanto ini? Kenapa kubu Mardiono tidak mau menghadapi Agus Suparmanto di sidang pemilihan ketum PPP yang telah dijadualkan tanggal 29 September?Nampaknya kubu Mardiono sadar, bahwa pemilih Mardiono diprediksi kalah jumlah dibanding pemilih Agus Suparmanto. Dalam deklarasi sehari sebelumnya di Hotel Borobudur Jakarta Pusat, Agus Suparmanto mendapat dukungan sekitar 480 suara DPC plus mayoritas DPW. Fakta ini membuat kubu Mardiono terpaksa menggunakan strategi menjegal dan menghentikan pencalonan Agus Suparmanto. Satu-satunya pintu menjegal Agus Suparmanto adalah dengan menetapkan AD/ART yang lama.

Sayang, strategi ini gagal. Plan B-nya adalah umumkan “klaim kemenangan.” Sekitar tiga media sudah disiapkan untuk memberitakan klaim kemenangan ini. Langkah ini diambil karena Mardiono tidak yakin bisa menang lawan Agus Suparmanto melalui voting.

Kekalahan kubu Mardiono hingga harus keluar dari arena muktamar membuktikan bahwa isu perubahan di internal PPP sangat kuat. Mardiono selama ini dianggap gagal memimpin PPP hingga petaka menimpa partai Ka’bah ini: yaitu PPP gagal dan terlempar dari Senayan. Kegagalan inilah yang mendorong isu perubahan itu menguat di internal PPP. Bagi umumnya warga PPP, mereka sadar dan merasa urgent untuk melakukan pergantian pemimpin di PPP. Jika pemimpin lama tetap bertahan, mereka pesimis PPP bisa kembali ke Senayan.

Senen ini (29/9) Kubu Mardiono akan mambawa klaim kemenangan ini ke Kemenkum. Apakah akan berhasil? Melihat kronologi Muktamar PPP ke-10 ini, nampaknya sulit bagi kubu Mardiono untuk bisa meyakinkan Kemenkum. Apalagi jika nantinya akan melalui proses peradilan, maka akan semakin sulit bagi kubu Mardiono memperthankan klaim kemenangannya. Bukti-bukti di Muktamar lebih menguatkan kemenangan bagi Agus Suparmanto. [el]

Bekasi, 29 September 2025.

Terkait

Partai Gema Bangsa Siap Bentuk Pengurus di Bengkalis, Dukungan Tokoh Mandau Mengalir

Bengkalis (Suluhrakyat.com) – Dukungan terhadap Partai Gema Bangsa (PGB) terus menguat. Kali ini, sejumlah tokoh masyarakat di Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, menyatakan komitmennya untuk bergabung dan membesarkan partai baru tersebut.…

Hendarsam Marantoko: Baharkam Polri Memiliki Peran Strategis dalam Mewujudkan Asta Cita

Jakarta (Suluh Rakyat) – Badan Pemelihara Keamanan (Baharkam) Polri yang dihadiri langsung oleh Kepala Baharkam Polri, Komjen. Muhammad Fadil Imran menggelar kegiatan Rapat Kerja Teknis (Rakernis) di Auditorium Mutiara STIK,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Jika Purbaya Direshuffle, Prabowo Sudah Tidak Berguna Lagi

  • By eL Chan
  • November 1, 2025
  • 0
  • 303 views
Jika Purbaya Direshuffle, Prabowo Sudah Tidak Berguna Lagi

Sebuah Kereta, Cepat Korupsinya

  • By eL Chan
  • November 1, 2025
  • 0
  • 160 views
Sebuah Kereta, Cepat Korupsinya

Setahun Rezim Prabowo, Perbaikan atau Kerusakan Menahun?

  • By eL Chan
  • Oktober 24, 2025
  • 0
  • 200 views
Setahun Rezim Prabowo, Perbaikan atau Kerusakan Menahun?

Purbaya Berdaya, Menggempur Tipu Daya dan Politik Sandera

  • By eL Chan
  • Oktober 23, 2025
  • 0
  • 182 views
Purbaya Berdaya, Menggempur Tipu Daya dan Politik Sandera

Refleksi Kaum Pesantren yang Umumnya Buta Apa Itu Kapital, Bagaimana Kapital Dikumpulkan, Bagaimana Kapital Dioperasikan, dan Bagaimana Dampak Kapital dalam Mengeksploitasi Alam, Manusia dan Sejarah

Refleksi Kaum Pesantren yang Umumnya Buta Apa Itu Kapital, Bagaimana Kapital Dikumpulkan, Bagaimana Kapital Dioperasikan, dan Bagaimana Dampak Kapital dalam Mengeksploitasi Alam, Manusia dan Sejarah

Klasifikasi Kehidupan Sosial

Klasifikasi Kehidupan Sosial

Sampai Kapan Rakyat Kapok jadi Ternak Para Penguasa?

Sampai Kapan Rakyat Kapok jadi Ternak Para Penguasa?

Jokowi dan Skandal Ijazah Berjamaah

  • By eL Chan
  • Oktober 16, 2025
  • 0
  • 188 views
Jokowi dan Skandal Ijazah Berjamaah

Quo Vadis Jalur Gaza Setelah Todongan Perdamaian dari Trump untuk Hamas

Quo Vadis Jalur Gaza Setelah Todongan Perdamaian dari Trump untuk Hamas

Andaikan Aku Seorang Palestina-Jalur Gaza

Andaikan Aku Seorang Palestina-Jalur Gaza

Budaya Kita Musyawarah, Mengapa Pilpres Mesti One Man One Vote

Budaya Kita Musyawarah, Mengapa Pilpres Mesti One Man One Vote

Sistem MPR RI adalah Sistem Komunis?

Sistem MPR RI adalah Sistem Komunis?

Tidak Ada Istilah Kata Kita, Yang Ada Istilah Kami

Tidak Ada Istilah Kata Kita, Yang Ada Istilah Kami

Ganti Kapolri, Awal Reformasi Polri

  • By eL Chan
  • Oktober 9, 2025
  • 0
  • 323 views
Ganti Kapolri, Awal Reformasi Polri

Mau Kemana Reformasi Polri?

Mau Kemana Reformasi Polri?

Mayor Matnuin Hasibuan: Pendiri TKR Laut dan Pejuang Kemerdekaan di Bekasi yang Jarang Diketahui

Mayor Matnuin Hasibuan: Pendiri TKR Laut dan Pejuang Kemerdekaan di Bekasi yang Jarang Diketahui

Cara Perpikir Menkeu Baru Brilian Namun Perlu Keep Calm

Cara Perpikir Menkeu Baru Brilian Namun Perlu Keep Calm

UI, UGM, ITB: Tiga DNA Ekonomi Indonesia

UI, UGM, ITB: Tiga DNA Ekonomi Indonesia

Menakar Untung Rugi Sorbonne University Keluar dari Peringkat THE

Menakar Untung Rugi Sorbonne University Keluar dari Peringkat THE

Bahlil, Diserang Buzzer Jahat?

Bahlil, Diserang Buzzer Jahat?