SULUH RAKYAT – Malam perpisahan KKN MIT 22 UIN Walisongo Semarang Posko 103 di Desa Karangrowo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, berlangsung penuh haru. Senyum dan tawa berubah menjadi tangis ketika mahasiswa dan warga saling berjabat tangan serta berpelukan dalam acara Party Wada’, Rabu (2/9/2026) malam.
Kegiatan yang digelar di Gedung Serbaguna Balai Desa Karangrowo tersebut dihadiri Kepala Desa Karangrowo Abdul Syukur beserta perangkat desa, Ketua Karang Taruna Abdul Khalim, tokoh agama, tokoh masyarakat, warga, serta seluruh mahasiswa KKN MIT 22 Posko 103.
Party Wada’ menjadi penutup rangkaian pengabdian mahasiswa sekaligus ruang untuk mengenang kebersamaan selama berada di Karangrowo. Mahasiswa yang awalnya datang sebagai orang asing perlahan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat melalui berbagai kegiatan dan program kerja.
“Kami datang sebagai orang asing yang belum mengenal apa-apa dan tidak mengenal siapa pun. Namun, seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit rasa asing itu berubah menjadi rasa nyaman. Masyarakat Karangrowo telah menerima kami dengan sangat baik dan hangat,” ujar Koordinator Desa (Kordes) KKN MIT 22 Posko 103, Afrizal.
Kepala Desa Karangrowo Abdul Syukur menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa selama melaksanakan KKN. Ia juga meminta maaf apabila selama mendampingi masih terdapat kekurangan.
“Terima kasih kepada adik-adik mahasiswa KKN yang sudah mau mengabdi di Desa Karangrowo. Mohon maaf apabila selama mendampingi masih terdapat kekurangan. Semoga ke depannya semuanya diberikan kesuksesan,” katanya.
Hal senada disampaikan Ketua Karang Taruna sekaligus pendamping KKN, Abdul Khalim. Ia berpesan agar ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama berada di Karangrowo dapat menjadi bekal mahasiswa di masa mendatang.
“Semoga ilmu dan pengalaman yang didapat selama KKN di Karangrowo dapat terus diterapkan di desa masing-masing dan menjadi bekal untuk ke depannya,” tuturnya.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng, pemutaran video profil Desa Karangrowo, penyerahan kenang-kenangan kepada pihak desa, serta pembagian hadiah kepada anak-anak peserta Lomba Semarak Maulid yang digelar 31 Agustus 2026.
Suasana kembali menghangat saat video aftermovie KKN diputar. Berbagai aktivitas, program kerja, interaksi dengan warga hingga momen sederhana selama pengabdian tampil dalam tayangan tersebut.
Namun, suasana berubah ketika memasuki sesi salam-salaman. Satu per satu mahasiswa berpamitan kepada warga yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Tangis pun pecah. Tidak hanya mahasiswa, sejumlah warga juga larut dalam suasana perpisahan. Pelukan dan jabat tangan menjadi simbol kedekatan yang terbangun selama masa KKN.
Bagi mahasiswa, Karangrowo bukan lagi sekadar lokasi pengabdian. Desa tersebut telah menjadi tempat bertemu orang-orang baru, belajar hidup bermasyarakat, sekaligus menciptakan kenangan yang akan dibawa pulang.
Party Wada’ pun menjadi penanda berakhirnya pengabdian KKN MIT 22 Posko 103. Meski mahasiswa telah meninggalkan desa, hubungan dan kenangan yang terbangun selama beberapa pekan diyakini tidak ikut berakhir bersama selesainya masa KKN.
Sebab, bagi mereka, KKN bukan sekadar datang, menjalankan program, lalu pulang. Ada cerita, kebersamaan, dan rasa kekeluargaan yang tertinggal di Karangrowo.**

























